presiden….. akhir tahun??? apa yang ia pikirkan….?

MENJELANG tutup tahun, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meniupkan harapan baru. Yaitu, Presiden akan melakukan tindakan konkret, langsung, dan menggunakan bahasa terang dalam mengelola masalah negeri ini.

Dua tahun memimpin negara, Presiden mengatakan telah banyak melakukan pendekatan persuasif. Memasuki tahun ketiga pemerintahannya, Presiden akan mengubah gaya kepemimpinannya lebih tegas dan terbuka, sehingga pers bisa mengaudit apa yang dilakukan negara.

“Kurang katakanlah kurang, baik katakanlah baik. Dengan demikian, tidak ada dusta di antara kita,” ujar Presiden dalam pidato menyambut ulang tahun ke-69 Kantor Berita Antara (26/12).

Pernyataan itu menunjukkan hal yang sangat positif. Yaitu, Presiden mendengarkan kritik yang ditujukan kepada dirinya. Kritik itu ialah Yudhoyono dinilai kurang tegas, lebih banyak berwacana ketimbang bertindak.

Presiden Yudhoyono memang memiliki kekuatan dalam menjelaskan persoalan bangsa dengan penuturan yang teratur, bahasa yang baik dan benar, kaya argumentasi, serta ekspresi penyampaian yang persuasif. Inilah kekuatan yang antara lain membuat Yudhoyono merebut popularitas serta dipilih oleh rakyat menjadi presiden.

Namun, dua tahun memimpin negara, membuka mata publik bahwa banyak persoalan bangsa tidak dapat dibereskan semata mengandalkan gaya persuasi. Memimpin jelas memerlukan ketegasan dan tindakan konkret, sebab akhirnya yang dituntut adalah hasil nyata. Efektivitas kepemimpinan yang membuahkan kinerja itulah yang ditunggu oleh rakyat.

Presiden Yudhoyono rupanya melakukan introspeksi. Ia menjawab kritik mengenai kekurangannya itu dengan mengatakan ke depan akan melakukan tindakan konkret, langsung, dan menggunakan bahasa terang.

Melakukan tindakan konkret pada dasarnya mengurangi verbalisme. Memperpendek jarak antara kata-kata dan perbuatan. Bahkan, mestinya lebih banyak perbuatan daripada perkataan. Ringkasnya, sedikit bicara, banyak bekerja.

Indikatornya sangat gampang. Rapat kabinet jangan memakan waktu berjam-jam, sehingga rapat kabinet lebih mirip seminar atau simposium. Verbalisme itu tampak, jika setelah rapat kabinet yang berjam-jam, hasilnya pemerintah akan mengkaji, atau Presiden masih akan mengendapkan. Yang begini gamblang bukan gaya memimpin melakukan tindakan konkret.

Kata-kata mengkaji, mempelajari, mengendapkan, lebih baik dipindahkan ke universitas atau ke pusat-pusat penelitian. Sedangkan kabinet mestinya lebih banyak menggunakan kata-kata seperti bertindak, melaksanakan, mengeksekusi.

Dua tahun untuk mempelajari, mengkaji, dan mengendapkan, adalah waktu yang lebih dari cukup. Lebih dari cukup, karena itu berarti telah menyita 40% dari lima tahun masa jabatan presiden. Yudhoyono hanya memiliki sisa waktu tiga tahun, dan itu pun sebagian akan dihabiskan oleh hiruk pikuk mempersiapkan diri maju lagi dalam Pemilu 2009.

Oleh karena itu, janji akan melakukan tindakan konkret bisa ditunjukkan dengan melakukan beberapa hal yang konkret. Yang sangat urgen, misalnya, komitmen memberantas korupsi. Bisakah Presiden menggerakkan dunia hukum negeri ini sehingga pembuktian terbalik dan perlindungan saksi menjadi konkret?

Yang juga ditunggu konkret adalah reformasi birokrasi. Birokrasi masih berbelit-belit, mempertahankan paradigma sakit, yaitu bila bisa dipersulit, mengapa dibikin gampang.

Melakukan tindakan konkret, memasuki wilayah praksis. Wilayah pembuktian, bahwa kata-kata dan perbuatan adalah satu. Bila tidak, bukan saja ada dusta di antara kita, melainkan lidah memang tidak bertulang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s