E sebuah bilai yang menjadi polemik bagi mahasiswa

NILAI  ” E “

SEBAGAI SUATU POLEMIK BAGI MAHASISWA

Nilai E mungkin bagi beberapa individu yang mengangap ” mereka orang yang pintar ” mungkin bukan suatu masalah, namun bagai mana bagi mahasiswa yang lain ???

Nilai A,B, C,D, E bahkan tampa nilai  bukan saja merupakan suatu urutan alphabet yang tiada arti bagi mahasiswa , namun sudah menjadi nyawa kedua dalam penentuan akhir Dari suatu mata kuliah.

Pada awal perkuliahan setiap dosen sudah memberi wanti-wanti tentang komponen penilaian yang menjadi standar pokok untuk penilaian akhir bagi mahasiswa, dimana komponern tersebut meliputi :

  1. tatap muka
  2. tugas
  3. mid semester dan,
  4. semester akhir

empat komponen tersebut merupakan pokok standar dari para dosen untuk memberikan nilai akhir untuk para mahasiswa. Namun standar pokok tersebut tidak lah berlaku bagi beberapa dosen pengajar yang mengaku idealis

( heh idealis ????? )

Beberapa mahasiswa pernah mengeluh mengenai penilaian akhir dari para dosen, ” padahal saya termasuk mahasiswa yang aktif kuliah walaupun saya termasuk bukan mahasiswa yang aktif bertanya namun setiap tugas yang diberikan para dosen selalu saja kerjakan, mid semester juga saya ikut walau saya tidak tahu dimana hasil mid tersebut selain itu komponen yang paling pokok juga saya ikut ( semesteran ) tapi yang selalu menjadi pertanyaan mengapa nilai yang saya peroleh masih saja berkisar dari nilai “D dan E ” maksimal C anehkan??? Dimana komponen selama ini menjadi acuan dalam penilaian ??

Namun yang lebih aneh lagi ketika ada mahasiswa yang memang pada kesehariannya tidak pernah kuliah ( baca: jarang kuliah ) + tugas yang selalu ngentol punya teman atas nama sang mahasiswa. Dengan mudah mendapatkan nilai A minimal B.

Sehingga fenomena semacam ini menjadi suatu hal ” pertanyaan ” bagi para mahasiswa betulkah komponen penilaian masih berlaku bagi mahasiswa atau sekedar patokan ABSTRAK yang fungsinya hanya sebagai hal yang menjadi bayangan  bagi para dosen untuk memberikan penilaian ??

Ataukah penilaian para dosen sudah tidak lagi mengacu pada nilai objektif + subyektif ?? atau lebih buruk lagi hanya masalah pribadi ?? masih menjadi pertanyaan.

Akhir kata ( cieleee ceramah pengajian kale ), para mahasiwa Cuma mengharap beri mahasiswa nilai yang standar bila memang mahasiswa yang bersangkutan memenuhi seluruh komponen yang telah di tentukan walau komponen semesteran mereka tidak mencukupi standar.

By : darmanto

22 september 2008

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s